![]() |
Rasa yang
terpendam dalam hati, biarlah melekat
Hanya bisa
berharap akan hilang dengan bergulirnya waktu
Ketika bel berbunyi yang
menandakan jam pelajaran telah usai, dia lekas-lekas keluar dan melangkah
menemui kakak kelas yang sedari tadi menunggunya. Panggillah dia Inay, yang selalu
tampil sibuk tanpa kerjaan. Tapi, Sekarang dirinya tengah disibukkan dengan
bimbingan yang cukup menyita banyak waktu. Dan teman-teman satu bimbingannya
tidak lain adalah kakak kelasnya sendiri, yaitu Ariska dan Ugik. Meskipun dia
masih kelas X, dia tidak pernah malu dan selalu berusaha akrab dengan mereka
semua. Meskipun kak Ugik selalu bersifat dingin padanya, tapi lain halnya
dengan Ariska. Dua sosok yang bertolak belakang.
Saat Inay menghampiri mereka,
Ariska lansung menyapanya. '' Inay, ikut aku dulu yuk ke parkiran!''. Pintanya
sedikit memohon
'' ok dah.'' jawabnya singkat
Setelah mengambil sepeda
motor, Ariska dan Inay masih menunggu Ugik yang juga mengambil sepeda motornya
di parkiran. Setelah mereka semua berkumpul, mereka lansung berangkat ke tempat
bimbingan yang kebetulan berada di MTS HIDAYAH. Disanalah tempat bimbingannya
berlansung dan guru yang mengajari mereka adalah mas Purwinda. Mereka sering
memanggilnya dengan sebutan akrab yaitu mas Pur. dia orangnya baik, lucu dan
menyenangkan, sehingga tidak pernah ada kata bosan untuk mengikuti
bimbingannya.
Saat mereka sampai di
tempat tujuan, mereka belum melihat mas Pur. Jadi, mereka menunggunya di Mushalla
yang masih dalam tahap renovasi. Akhirnya yang ditunggupun datang dan lansung
menyapa mereka semua, '' sudah berapa lama nunggunya?''
''Masih barusan mas''
jawab Ugik
merekapun lansung masuk dan memulai
bimbingannya. Meskipun materi hari ini sulit untuk Inay pahami, karena 3 kali
ia tidak menghadiri pertemuan sebelumnya. Tapi Inay selalu terlihat mencoba
bertanya dan terus mencoba memahaminya. Sementara disisi lain, 2 kakak kelasnya
terlihat sangat memahami materi tersebut. Saat mengerjakan soal yang diberikan
oleh mas Pur, Inay sempatkan untuk mencuri-curi waktu melihat lelaki yang
sekarang ini tengah ada disampingnya. Saat itu, yang terlintas dibenaknya
adalah mengapa lelaki yang notabennya adalah kakak kelasnya ini selalu memberi
kesan cuek, pendiam, tertutup, dengan sikap dinginnya. Meskipun sikapnya
seperti itu, ia terus berusaha untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Sikap yang
dimilikinya sangat membuat Inay penasaran dan selalu ingin mencari tahu tentang
dirinya. Ugik memang bisa dibilang memiliki fisik yang tampan, jadi tak heran
banyak kaum hawa yang mencintainya. Tampil rapi, bersih, dan indah serasa
melengkapi ketampanan wajahnya. Hal itu juga yang membuat anak MTS HIDAYAH suka
dan bersikap sok kenal kepadanya. Tapi, dia malah tidak menanggapinya. Entahlah
apa yang sebenarnya ia rasakan pada saat itu. Sekali lagi, Ugik terkesan lelaki
yang aneh dan susah ditebak, lebih jelasnya '' misterius''.
'' bagaimana Inay, sudah
selesai?'' tanya mas Pur yang sekaligus menyadarkannya dari lamunan, lamunan
yang membuatnya lalai mengerjakan tugas.
'' hehehe belum mas, saya
belum mengerti dan saya juga belum sepenuhnya paham.'' jawabnya dengan perasaan
malu.
'' iya sudah, jika kamu
banyak berlatih, pasti kamu nanti bisa. Sekarang kamu tanya ke Ariska atau Ugik
dulu.'' perintahnya
Dengan sigap Inay
lansung bertanya kepada Ariska, dan mencoba memahami yang digambarkannya. Saat
2 jam bimbingan, akhirnya mereka siap-siap untuk pulang. Tapi, sebelumnya mas
Pur bertanya kepada mereka tentang bimbingan minggu depan. '' minggu depan
bimbingannya mau dimana ? Masih disini atau pindah ?''
'' minggu depan kami
libur mas. Bagaimana kita pindah saja ke rumahnya saya, di Sumber.'' jawab Ugik
yang mencoba memberi usulan.
'' ahh.... Jangan Ugik.
Rumahmu jauh. Akukan juga tidak tahu rumahmu.'' jawab Ariska yang menolak
usulan Ugik.
Sementara Inay hanya
bisa diam dan mendengarkan usulan mereka. Karna ia hanya adik kelas mereka dan
ia juga tidak mau terkesan banyak tingkah.
'' ya..... Sudah. Kita
bicarakan lain waktu saja. Nanti saya informasikan lagi.'' jelas mas Pur yang
sekaligus menhentikan debatan antara Ugik dan Ariska.
Saat perjalanan pulang,
terlihat Ugik yang tengah berada di belakangnya. Dia mengendarai sepeda
motornya sangat cepat dan lansung belok di pertigaan. Saat itu Inay baru ingat, kalau Ugik masih ada les di
AIRLANGGA. Saat itu Inay memutar memori otaknya tentang Ugik dan sifat anehnya.
Seperti dalam beberapa kali bimbingan, mereka belum sempat berkenalan dan saling
tegur sapa dengannya. Dia terlalu cuek untuk diajak berkenalan. Dan jika Inay paksakan
mungkin hanya sifat dinginyalah yang dia peroleh.
Setelah beberapa hari
liburan di rumah, akhirnya tiba saatnya dia bimbingan lagi. Tapi, Inay masih
menuggu informasi selengkapnya dari Ariska atau mas Pur tentang tempat pelaksanaanya.
Setelah sekian lama dia menunggu, tiba-tiba Handphonenya berbunyi, dan dia
lekas-lekas lansung membuka pesan baru dari Ariska. Ariska memberitahukan kalau bimbingannya di rumah mas
Pur yang tempatnya di dekat Pasar Dringu.
Setelah mendapat pesan
baru dari Ariska, dia lekas-lekas mempersiapkan semuanya, mulai dari baju, buku
yang harus di bawa, tas, alat tulis, dan tak lupa tas kresek yang selalu ia
bawa karna sekarang yang sedang musim hujan.
Saat tiba di Pasar
wonoasih, Inay lansung menghampiri Ugik dan Ariska yang sedari tadi sudah
menunggunya. Saat itu, yang bias Inay lakukan hanyalah minta maaf, “ maaf ya
kak, aku tadi masih nungguin angkot.”
“iya tidak apa-apa dek.
Ngomong-ngomong kamu tahu Pasar Dringu itu dimana ?” Tanya Ariska yang membuat
Inay terlihat bingung sendiri.
“apa? Pasar Dringu? Saya
tidak tahu, apalagi saya tidak pernah kelayapan.kalau Pasar Muneng saya tahu.”
Jawanya yang disertai candaan meski ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk
bercanda.
“ooohh, iya sudah kalau
begitu. Ugik jangan sampai nyasar ya,,,,!” ucap Ariska yang seraya menghidupkan
mesin sepeda motornya. Sementara Ugik sudah berlalu tanpa ada sepatah jawaban
apapun. “Dasar cowok aneh, sekali aneh tetap saja aneh” ucap
Inay dalam hati.
Satelah beberapa lama
perjalanan akhirnya merekapun sampai di Pasar Dringu. Dan mereka mengikuti
aba-aba selanjutnya dari mas Pur. Setelah merasakan rasa kebingungan menunggu di teras depan rumahnya. Rumah yang
sederhana dan berjajar dengan banyak rumah lainnya sehingga member kesan
seperti perumahan atau lebih tepatnya kost.
Saat tiba disana, Ariska
dan Ugik lansung memarkir sepeda motornya di teras depan. Akhirnya mas Pur
mempersilahkan mereka semua masuk dan duduk di dalam tanpa ada kursi ataupun
meja, hanya beralaskan karpet biru yang panjang. Materi hari ini sangatlah
penting dan juga menyenangkan. Banyak sekali yang mereka peroleh hari ini.
Seperti, revolusi bintang atau sering disebut dengan kelahiran bintang-bintang,
mulai dari katai putih hingga bintang maha raksasa. Materi hari ini juga
membahas tentang hari kelahiran merka semua. Dan dapat disimpulkan bahwa “Inay
lebih tua dari pada Ariska, sedangkan untuk menentukan hari apa mereka
dilahirkan. Hal yang membuat Inay merasa senang ialah, inilah hari pertama ia
berbicara dengan Ugik, si cowok misterius.
Tidak terasa bimbingan yang menyenangkan itu harus berakhir dengan bergulirnya
waktu. Akhirnya merekapun siap-siap pulang. Tapi, sebelumnya tak lupa berpamitan kepada mas Pur dan isterinya yang
terlihat cantik dengan baju yang ia pakai.
Saat di tengah
perjalanan, tiba-tiba saja Ugik menegur Inay. “ Inay, kamu pulangnya dengan
siapa?”
“naik angkot.” Jawabnya
singkat
“ memangnya ada tah
angkot jam segini?” Tanya Ugik lagi
“ kurang tahu aku,
akukan baru sekarang pulang magrib seperti ini.” Jelas Inay yang mulai resah
Akhirnya Ugik mencoba menghentikan
sepsda motor yang dikendarai Ariska.
“Riska, berhenti!”
perintah Ugik
“apa?” Tanyanya bingung
“ Inay bareng aku saja,
kasihan sekarang sudah malam, takutnya tidak ada angkot.” Jelasya pada Ariska.
“ iya,,, sudah. Aku
duluan ya,,,,” pamit Ariska setelah aku turun dari boncengannya.
Sementara, Ugik masih
memperbaiki tasnya, karena saat itu hujanpun mulai mengalir.
“ kakak rumahnya dimana
?” Tanya Inay yang memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
“di Sumber dek, kamu
sendiri dimana?” tanyanya balik
“di Muneng kak.” Jawanya
singkat
Setelah Ugik selesai
memperbaiki tasnya, Inay pun lansung naik dan duduk berboncengan dengan Ugik.
Di sepanjang perjalanan,
mereka tidak lagi saling berbicara. Ugik sangat konsentrasi dengan menyetir
sepeda motornya. Sementara, Inay malah senyum-senyum sendiri melihat kenampakan
itu. Dari hari ini Ugik berhasil mengubah kesan yang dulunya cuek berubah
menjadi perhatian. Buktinya Ugik masih memikirkan Inay jika kalau harus pulang
malam dan menunggu angkot. Selama perjalanan entah mengapa hatinya Inay
merasakan kesenangan yang lama sudah ia tak rasakan lagi. Tiba-tiba perasaan
itu dating, dan membuatnya bingung.”perasaan
apa ini? Kenapa aku merasakan senang yang berlebihan seperti ini.” Tanyanya
dalam hati.
Tak terasa kini mereka
sudah sampai lampu merah di Laweyan. Tiba-tiba Ugik membuka kaca helmnya,
memperlahatkan wajah tampannya. “ dimana rumanya adek ?” tanyanya
“turun disini saja
kak.”pinta Inay karena ia tak ingin tambah merepotkan Ugik dengan harus
mengantarkannya pulang sampai ke rumahnya, apalagi dia telah melihat sosok yang
tak asing lagi olehnya, yaitu ayahnya sendiri.
Setelah Inay turun dari
boncengannya, tak lupa ia berterima kasih pap Ugik,” terima kasih ya kak, sudah
diantar pulang.”
“iya,sama-sama.” Jawab
Ugik singkat seraya pergi dan menghilang dari pandangannya.
Sementara Inay
menghampiri ayahnya dan pulang menuju rumahnya.
Sejak peristiwa itu,
Inay masih merasakan kebahagiaan yang menimpanya itu. Rasa senang yang
amat-amat dalam yang ia rasakan dan ia juga bingung mengapa dia bias seperti
itu. Perasaan yang hinggap di hatinya, dan peristiwa itu seperti mimpi yang aku
yakin takkan terulang yang kedua kalinya. Dari peristiwa itu juga tahap demi
tahap Inay mulai akrab dengan Ugik dan mulai ada komunikasi diantara mereka.
Inay pun mulai mengenal sosok Ugik,
mulai dari nomor handphonenya, akun facebooknya, hingga sifat-sifatnya
yang belum diketahui sebelumnya, dan juga hal yang privasi sekalipun.
Tiga minggu berikutnya,
mereka bimbingan dan sudah mulai akrab satu sama lain. Jadi, mereka mempunyai
banyak waktu untuk belajar bersama. Saat mereka belajar sudah tidak ada lagi
sikap dingin ataupun sikap cueknya. Setelah beberapa hari, mereka mendapatkan
briving tentang OSN yang akan dilaksanakan mulai besok. Semua telah terjadwal
dengan sama rata, sementara Inay, Ugik dan Ariska kebagian hari Rabu.
Pemberitahuan itu lantas membuat mereka kaget, karna yang mereka tahu, OSN yang
mereka ikuti adalah hari Kamis. Sejak saat di umumkannya pemberitahuan
tersebut, mereka menambah jam belejarnya.
Saat pulang sekolah,
mereka mengadakan belajar bersama, mengingat besok giliran mereka OSN. Sebelum
belajar, mereka sempatkan untuk shalat terlebih dahulu. Setelah selesai shalat,
mereka memulai belejar bersama. Tapi, Ugik tidak ikut belajar. Dia sibuk dengan
kesibukannya mendownload sesuatu dari Handphonenya. Tangannya begitu lincah
meminkan Handphone yang dia pegang saat ini. Inay dan Ariska pun tidak berani
menegurnya. Tiba-tiba Ugik menggumal sendiri “ huhuh lemot, sial sial harus
diulang lagi.”
Saat itu aku tersadar
bahwa dirinya tak sepenuhnya pendiam, ada saatnya dia juga cerewet seperti saat
ini. Setelah mereka merasa cukup bekajar hari ini, mereka pulang ke rumah
masing-masing.
Saat pagi telah datang,
matahari bersinar dari ufuk timur. Inay terbangun dari tidur nyenyaknya. Meski
badannya susah untuk bangun tapi, ia tersadar kalau hari ini adalah hari dimana
dirinya harus mengikuti OSN bersama Ugik, dan Ariska. Akhirnya ia bangun dan
langsung mempersiapkan segala sesuatu yang harus ia bawa. Setelah semua terasa
lengkap, dai pergi tapi sebelumnya dia meminta doa restu kepada ibunya, bukan
doa restu untuk kawin melainkan untuk hari ini yang akan ia jalani. Akhirnya ia
berangkat dengan bekal ilmu seadanya yang ia punya dari belajar selama
bimbingan.
Saat tiba di tempat OSN
yang kebetulan berada di SMKN 1 PROBOLINGGO. Selama mengikuti Olimpiade
tersebut, Inay mencoba tenang. Yang dibuat aneh mengapa pandangannya tak pernah
lepas dari sosok Ugik yang sekarang tampil rapi dan bersih sehingga menambah
ketampanan lelaki itu. Saat waktu menunjukkan bahwa OSn tersebut telah usai.
Mereka semua bergegas pulang menuju rumah masing-masing. Mereka tak ingin
kembali ke sekolah untuk hari ini, karna energy mereka telah habis terkuras OSN
tadi.
Saat Inay menunggu
angkot yang tak kunjung tampak. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan bunyi klakson
sepeda motor. Setelah ia menoleh, ternyata bunyi tadi berasal dari Ugik yang
tengah lewat di depannya seraya melemparkan senyum manisnya. Inay hanya bisa
membalas dengan senyuman. Dia merasakan hatinya kacau. Ada rasa lega karena ia
sudah tidak ada beban tentang OSN, tapi separuh hatinya sedih dan hancur karna
ia menyadari bahwa inilah pertemuannya yang terakhir dan saat inilah ia
mendapatkan senyuman termanis dari Ugik, yang tanpa ia sadari bahwa dirinya
mulai menyukainya.
Pandangan itu semakin
lama, semakin tak terlihat lagi. Masa-masa itu begitu indah untuk dilupakan.
Meski ia menyadari detik ini semuanya tak akan sama lagi seperti yang dulu,
saat masih bisa bersama dengannya. Yang ada saat ini hanya Inay sendiri
memendang sosok yang sudah tak tampak itu. Mungki bisa dibilang Inay sangat
merasakan kehilangan.
perasaan yang tak sempat
ia katakana. Sifat Ugik masih sangat melekat di hatinya, kekaguman karena sifatnya
yang MISTERIUS. Ia hanya bisa mengunggkapan perasaannya pada secarik kertas
yang ia simpan dengan rapi di dalam kotak hadiah bekas.
Bila bola
kehidupan ini terus berputar
Berikan aku
setitik harapan
Yang bisa
membuat hati ini bergetar
bergetar karena takut kehilangan
Izinkan aku
melihat indahnya pelangi
Saat aku
dalam kesunyian malam
Izinkan aku
memiliki rasa cinta
Yang terus
menyala meski harus terpendam
![]() |

