hujan salju

Kamis, 07 November 2013





RASA  INI
 


Rasa yang terpendam dalam hati, biarlah melekat
Hanya bisa berharap akan hilang dengan bergulirnya waktu

Ketika bel berbunyi yang menandakan jam pelajaran telah usai, dia lekas-lekas keluar dan melangkah menemui kakak kelas yang sedari tadi menunggunya. Panggillah dia Inay, yang selalu tampil sibuk tanpa kerjaan. Tapi, Sekarang dirinya tengah disibukkan dengan bimbingan yang cukup menyita banyak waktu. Dan teman-teman satu bimbingannya tidak lain adalah kakak kelasnya sendiri, yaitu Ariska dan Ugik. Meskipun dia masih kelas X, dia tidak pernah malu dan selalu berusaha akrab dengan mereka semua. Meskipun kak Ugik selalu bersifat dingin padanya, tapi lain halnya dengan Ariska. Dua sosok yang bertolak belakang.
Saat Inay menghampiri mereka, Ariska lansung menyapanya. '' Inay, ikut aku dulu yuk ke parkiran!''. Pintanya sedikit memohon
'' ok dah.'' jawabnya singkat
Setelah mengambil sepeda motor, Ariska dan Inay masih menunggu Ugik yang juga mengambil sepeda motornya di parkiran. Setelah mereka semua berkumpul, mereka lansung berangkat ke tempat bimbingan yang kebetulan berada di MTS HIDAYAH. Disanalah tempat bimbingannya berlansung dan guru yang mengajari mereka adalah mas Purwinda. Mereka sering memanggilnya dengan sebutan akrab yaitu mas Pur. dia orangnya baik, lucu dan menyenangkan, sehingga tidak pernah ada kata bosan untuk mengikuti bimbingannya.
Saat mereka sampai di tempat tujuan, mereka belum melihat mas Pur. Jadi, mereka menunggunya di Mushalla yang masih dalam tahap renovasi. Akhirnya yang ditunggupun datang dan lansung menyapa mereka semua, '' sudah berapa lama nunggunya?''
''Masih barusan mas'' jawab Ugik
merekapun lansung masuk dan memulai bimbingannya. Meskipun materi hari ini sulit untuk Inay pahami, karena 3 kali ia tidak menghadiri pertemuan sebelumnya. Tapi Inay selalu terlihat mencoba bertanya dan terus mencoba memahaminya. Sementara disisi lain, 2 kakak kelasnya terlihat sangat memahami materi tersebut. Saat mengerjakan soal yang diberikan oleh mas Pur, Inay sempatkan untuk mencuri-curi waktu melihat lelaki yang sekarang ini tengah ada disampingnya. Saat itu, yang terlintas dibenaknya adalah mengapa lelaki yang notabennya adalah kakak kelasnya ini selalu memberi kesan cuek, pendiam, tertutup, dengan sikap dinginnya. Meskipun sikapnya seperti itu, ia terus berusaha untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Sikap yang dimilikinya sangat membuat Inay penasaran dan selalu ingin mencari tahu tentang dirinya. Ugik memang bisa dibilang memiliki fisik yang tampan, jadi tak heran banyak kaum hawa yang mencintainya. Tampil rapi, bersih, dan indah serasa melengkapi ketampanan wajahnya. Hal itu juga yang membuat anak MTS HIDAYAH suka dan bersikap sok kenal kepadanya. Tapi, dia malah tidak menanggapinya. Entahlah apa yang sebenarnya ia rasakan pada saat itu. Sekali lagi, Ugik terkesan lelaki yang aneh dan susah ditebak, lebih jelasnya '' misterius''.
'' bagaimana Inay, sudah selesai?'' tanya mas Pur yang sekaligus menyadarkannya dari lamunan, lamunan yang membuatnya lalai mengerjakan tugas.
'' hehehe belum mas, saya belum mengerti dan saya juga belum sepenuhnya paham.'' jawabnya dengan perasaan malu.
'' iya sudah, jika kamu banyak berlatih, pasti kamu nanti bisa. Sekarang kamu tanya ke Ariska atau Ugik dulu.'' perintahnya
Dengan sigap Inay lansung bertanya kepada Ariska, dan mencoba memahami yang digambarkannya. Saat 2 jam bimbingan, akhirnya mereka siap-siap untuk pulang. Tapi, sebelumnya mas Pur bertanya kepada mereka tentang bimbingan minggu depan. '' minggu depan bimbingannya mau dimana ? Masih disini atau pindah ?''
'' minggu depan kami libur mas. Bagaimana kita pindah saja ke rumahnya saya, di Sumber.'' jawab Ugik yang mencoba memberi usulan.
'' ahh.... Jangan Ugik. Rumahmu jauh. Akukan juga tidak tahu rumahmu.'' jawab Ariska yang menolak usulan Ugik.
Sementara Inay hanya bisa diam dan mendengarkan usulan mereka. Karna ia hanya adik kelas mereka dan ia juga tidak mau terkesan banyak tingkah.
'' ya..... Sudah. Kita bicarakan lain waktu saja. Nanti saya informasikan lagi.'' jelas mas Pur yang sekaligus menhentikan debatan antara Ugik dan Ariska.
Saat perjalanan pulang, terlihat Ugik yang tengah berada di belakangnya. Dia mengendarai sepeda motornya sangat cepat dan lansung belok di pertigaan. Saat itu Inay  baru ingat, kalau Ugik masih ada les di AIRLANGGA. Saat itu Inay memutar memori otaknya tentang Ugik dan sifat anehnya. Seperti dalam beberapa kali bimbingan, mereka belum sempat berkenalan dan saling tegur sapa dengannya. Dia terlalu cuek untuk diajak berkenalan. Dan jika Inay paksakan mungkin hanya sifat dinginyalah yang dia peroleh.
Setelah beberapa hari liburan di rumah, akhirnya tiba saatnya dia bimbingan lagi. Tapi, Inay masih menuggu informasi selengkapnya dari Ariska atau mas Pur tentang tempat pelaksanaanya. Setelah sekian lama dia menunggu, tiba-tiba Handphonenya berbunyi, dan dia lekas-lekas lansung membuka pesan baru dari Ariska. Ariska  memberitahukan kalau bimbingannya di rumah mas Pur yang tempatnya di dekat Pasar Dringu.
Setelah mendapat pesan baru dari Ariska, dia lekas-lekas mempersiapkan semuanya, mulai dari baju, buku yang harus di bawa, tas, alat tulis, dan tak lupa tas kresek yang selalu ia bawa karna sekarang yang sedang musim hujan.
Saat tiba di Pasar wonoasih, Inay lansung menghampiri Ugik dan Ariska yang sedari tadi sudah menunggunya. Saat itu, yang bias Inay lakukan hanyalah minta maaf, “ maaf ya kak, aku tadi masih nungguin angkot.”
“iya tidak apa-apa dek. Ngomong-ngomong kamu tahu Pasar Dringu itu dimana ?” Tanya Ariska yang membuat Inay terlihat bingung sendiri.
“apa? Pasar Dringu? Saya tidak tahu, apalagi saya tidak pernah kelayapan.kalau Pasar Muneng saya tahu.” Jawanya yang disertai candaan meski ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk bercanda.
“ooohh, iya sudah kalau begitu. Ugik jangan sampai nyasar ya,,,,!” ucap Ariska yang seraya menghidupkan mesin sepeda motornya. Sementara Ugik sudah berlalu tanpa ada sepatah jawaban apapun. “Dasar cowok aneh, sekali aneh tetap saja aneh” ucap Inay dalam hati.
Satelah beberapa lama perjalanan akhirnya merekapun sampai di Pasar Dringu. Dan mereka mengikuti aba-aba selanjutnya dari mas Pur. Setelah merasakan rasa kebingungan  menunggu di teras depan rumahnya. Rumah yang sederhana dan berjajar dengan banyak rumah lainnya sehingga member kesan seperti perumahan atau lebih tepatnya kost.
Saat tiba disana, Ariska dan Ugik lansung memarkir sepeda motornya di teras depan. Akhirnya mas Pur mempersilahkan mereka semua masuk dan duduk di dalam tanpa ada kursi ataupun meja, hanya beralaskan karpet biru yang panjang. Materi hari ini sangatlah penting dan juga menyenangkan. Banyak sekali yang mereka peroleh hari ini. Seperti, revolusi bintang atau sering disebut dengan kelahiran bintang-bintang, mulai dari katai putih hingga bintang maha raksasa. Materi hari ini juga membahas tentang hari kelahiran merka semua. Dan dapat disimpulkan bahwa “Inay lebih tua dari pada Ariska, sedangkan untuk menentukan hari apa mereka dilahirkan. Hal yang membuat Inay merasa senang ialah, inilah hari pertama ia berbicara dengan Ugik, si cowok misterius. Tidak terasa bimbingan yang menyenangkan itu harus berakhir dengan bergulirnya waktu. Akhirnya merekapun siap-siap pulang. Tapi, sebelumnya tak lupa  berpamitan kepada mas Pur dan isterinya yang terlihat cantik dengan baju yang ia pakai.
Saat di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Ugik menegur Inay. “ Inay, kamu pulangnya dengan siapa?”
“naik angkot.” Jawabnya singkat
“ memangnya ada tah angkot jam segini?” Tanya Ugik lagi
“ kurang tahu aku, akukan baru sekarang pulang magrib seperti ini.” Jelas Inay yang mulai resah
Akhirnya Ugik mencoba menghentikan sepsda motor yang dikendarai Ariska.
“Riska, berhenti!” perintah Ugik
“apa?” Tanyanya bingung
“ Inay bareng aku saja, kasihan sekarang sudah malam, takutnya tidak ada angkot.” Jelasya pada Ariska.
“ iya,,, sudah. Aku duluan ya,,,,” pamit Ariska setelah aku turun dari boncengannya.
Sementara, Ugik masih memperbaiki tasnya, karena saat itu hujanpun mulai mengalir.
“ kakak rumahnya dimana ?” Tanya Inay yang memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
“di Sumber dek, kamu sendiri dimana?” tanyanya balik
“di Muneng kak.” Jawanya singkat
Setelah Ugik selesai memperbaiki tasnya, Inay pun lansung naik dan duduk berboncengan dengan Ugik.
Di sepanjang perjalanan, mereka tidak lagi saling berbicara. Ugik sangat konsentrasi dengan menyetir sepeda motornya. Sementara, Inay malah senyum-senyum sendiri melihat kenampakan itu. Dari hari ini Ugik berhasil mengubah kesan yang dulunya cuek berubah menjadi perhatian. Buktinya Ugik masih memikirkan Inay jika kalau harus pulang malam dan menunggu angkot. Selama perjalanan entah mengapa hatinya Inay merasakan kesenangan yang lama sudah ia tak rasakan lagi. Tiba-tiba perasaan itu dating, dan membuatnya bingung.”perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan senang yang berlebihan seperti ini.” Tanyanya dalam hati.
Tak terasa kini mereka sudah sampai lampu merah di Laweyan. Tiba-tiba Ugik membuka kaca helmnya, memperlahatkan wajah tampannya. “ dimana rumanya adek ?” tanyanya
“turun disini saja kak.”pinta Inay karena ia tak ingin tambah merepotkan Ugik dengan harus mengantarkannya pulang sampai ke rumahnya, apalagi dia telah melihat sosok yang tak asing lagi olehnya, yaitu ayahnya sendiri.
Setelah Inay turun dari boncengannya, tak lupa ia berterima kasih pap Ugik,” terima kasih ya kak, sudah diantar pulang.”
“iya,sama-sama.” Jawab Ugik singkat seraya pergi dan menghilang dari pandangannya.
Sementara Inay menghampiri ayahnya dan pulang menuju rumahnya.
Sejak peristiwa itu, Inay masih merasakan kebahagiaan yang menimpanya itu. Rasa senang yang amat-amat dalam yang ia rasakan dan ia juga bingung mengapa dia bias seperti itu. Perasaan yang hinggap di hatinya, dan peristiwa itu seperti mimpi yang aku yakin takkan terulang yang kedua kalinya. Dari peristiwa itu juga tahap demi tahap Inay mulai akrab dengan Ugik dan mulai ada komunikasi diantara mereka. Inay pun mulai mengenal sosok Ugik,  mulai dari nomor handphonenya, akun facebooknya, hingga sifat-sifatnya yang belum diketahui sebelumnya, dan juga hal yang privasi sekalipun.
Tiga minggu berikutnya, mereka bimbingan dan sudah mulai akrab satu sama lain. Jadi, mereka mempunyai banyak waktu untuk belajar bersama. Saat mereka belajar sudah tidak ada lagi sikap dingin ataupun sikap cueknya. Setelah beberapa hari, mereka mendapatkan briving tentang OSN yang akan dilaksanakan mulai besok. Semua telah terjadwal dengan sama rata, sementara Inay, Ugik dan Ariska kebagian hari Rabu. Pemberitahuan itu lantas membuat mereka kaget, karna yang mereka tahu, OSN yang mereka ikuti adalah hari Kamis. Sejak saat di umumkannya pemberitahuan tersebut, mereka menambah jam belejarnya.
Saat pulang sekolah, mereka mengadakan belajar bersama, mengingat besok giliran mereka OSN. Sebelum belajar, mereka sempatkan untuk shalat terlebih dahulu. Setelah selesai shalat, mereka memulai belejar bersama. Tapi, Ugik tidak ikut belajar. Dia sibuk dengan kesibukannya mendownload sesuatu dari Handphonenya. Tangannya begitu lincah meminkan Handphone yang dia pegang saat ini. Inay dan Ariska pun tidak berani menegurnya. Tiba-tiba Ugik menggumal sendiri “ huhuh lemot, sial sial harus diulang lagi.”
Saat itu aku tersadar bahwa dirinya tak sepenuhnya pendiam, ada saatnya dia juga cerewet seperti saat ini. Setelah mereka merasa cukup bekajar hari ini, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Saat pagi telah datang, matahari bersinar dari ufuk timur. Inay terbangun dari tidur nyenyaknya. Meski badannya susah untuk bangun tapi, ia tersadar kalau hari ini adalah hari dimana dirinya harus mengikuti OSN bersama Ugik, dan Ariska. Akhirnya ia bangun dan langsung mempersiapkan segala sesuatu yang harus ia bawa. Setelah semua terasa lengkap, dai pergi tapi sebelumnya dia meminta doa restu kepada ibunya, bukan doa restu untuk kawin melainkan untuk hari ini yang akan ia jalani. Akhirnya ia berangkat dengan bekal ilmu seadanya yang ia punya dari belajar selama bimbingan.
Saat tiba di tempat OSN yang kebetulan berada di SMKN 1 PROBOLINGGO. Selama mengikuti Olimpiade tersebut, Inay mencoba tenang. Yang dibuat aneh mengapa pandangannya tak pernah lepas dari sosok Ugik yang sekarang tampil rapi dan bersih sehingga menambah ketampanan lelaki itu. Saat waktu menunjukkan bahwa OSn tersebut telah usai. Mereka semua bergegas pulang menuju rumah masing-masing. Mereka tak ingin kembali ke sekolah untuk hari ini, karna energy mereka telah habis terkuras OSN tadi.
Saat Inay menunggu angkot yang tak kunjung tampak. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan bunyi klakson sepeda motor. Setelah ia menoleh, ternyata bunyi tadi berasal dari Ugik yang tengah lewat di depannya seraya melemparkan senyum manisnya. Inay hanya bisa membalas dengan senyuman. Dia merasakan hatinya kacau. Ada rasa lega karena ia sudah tidak ada beban tentang OSN, tapi separuh hatinya sedih dan hancur karna ia menyadari bahwa inilah pertemuannya yang terakhir dan saat inilah ia mendapatkan senyuman termanis dari Ugik, yang tanpa ia sadari bahwa dirinya mulai menyukainya.
Pandangan itu semakin lama, semakin tak terlihat lagi. Masa-masa itu begitu indah untuk dilupakan. Meski ia menyadari detik ini semuanya tak akan sama lagi seperti yang dulu, saat masih bisa bersama dengannya. Yang ada saat ini hanya Inay sendiri memendang sosok yang sudah tak tampak itu. Mungki bisa dibilang Inay sangat merasakan kehilangan.
perasaan yang tak sempat ia katakana. Sifat Ugik masih sangat melekat di hatinya, kekaguman karena sifatnya yang MISTERIUS. Ia hanya bisa mengunggkapan perasaannya pada secarik kertas yang ia simpan dengan rapi di dalam kotak hadiah bekas.


Bila bola kehidupan ini terus berputar
Berikan aku setitik harapan
Yang bisa membuat hati ini bergetar
bergetar karena takut kehilangan

Izinkan aku melihat indahnya pelangi
Saat aku dalam kesunyian malam
Izinkan aku memiliki rasa cinta
Yang terus menyala meski harus terpendam


 


Kembar namun beda
Hidup dengan terlahir kembar tidak selalu merasa senang. Apalagi dengan sifat yang tidak sama. Randa dan Randi adalah saudara kembar.Wajah, suara, dan gaya bicara mereka sangat mirip. Sejak kecil model baju,sepatu,dan tas mereka selalu sama. Hanya warnanya saja yang berbeda. Mereka berdua sangat kompak sekali.Jadi ,membuat orang bingung untuk membedakan sosok keduanya, mana yang Randa dan yang mana Randi.Tapi yang membuat mereka berbeda adalah karakteristik keduanya ,Randa yang dominan denagan karakter pemalas sedangkan Randi bersifat rajin.Tapi akhir-akhir ini Randa merasa semakin berbeda dengan Randi.Karena Randi selalu juara kelas sedangkan Randa tidak.
Saat Randa tengah duduk dikelas, tiba-tiba ia ditegur oleh sosok yang tak asing lagi baginya, “Randa kapan kamu jadi juara kelas seperti saudara kembarmu Randi?” . pertanyaan sosok itu sangat membuat Randa merasa sangat berbeda dengan saudaranya itu. Randa hanya terdiam dan mencerna perkataan temannya itu, ia hanya bisa tersenyum dan menahan rasa malu  .Tetapi untunglah ada Syarah ,yang notabanenya adalah sahabatnya dari dulu. Syarah lah yang selalu mengerti dirinya selain saudara kembarnya itu.
      Tiba-tiba Syarah mengambil tangannya seraya tersenyum padanya. Ia sangat mengerti perasaan Randa, yang dari mimic wajahnya sangat tegang. Syarah sesegera mungkin mengajak Randa pergi ke kantin sekolah,”Ayo Randa ,kita ke kantin, aku pengen makan, sudah lapar ini, ”.ucap Syarah dengan mimic sedikit manja.
”ucapan Husnul tadi tidak usah dihiraukan ya,,,”.ucap Syarah mencoba menenangkan hati Randa yang sedari tadi sedih memikirkan peristiwa tadi.
“ iya,, tapi kenyataannya aku memang berbeda dengan Randi, jadi wajar mereka berkata seperti itu.” Ucapnya setengah melemas
“ semua insan di dunia ini tidak ada yang sama. Jadi kamu tidak ush berkecil hati seperti ini, santai saja.” Ucap Syarah mengembalikan situasi agar tenang.
“ iya,,, terima kasih banyak atas support nya,” ucapnya seraya tersenyum.
Akhirnya mereka melangkah pergi menjauhi sekolahnya. Langkah demi langkah mereka lalui dengan suka cita tak peduli apa yang telah terjadi hari ini. Hingga mereka terpisah karena senja  telah menyambut mereka.
        Saat senja berikutnya menyapa Randa, ia merasa ada yang berbeda. Hari ini ia tidak lagi bersama Syarah. Ia sekarang harus pergi ke Super market untuk belanja kebutuhan yang ibunya butuhkan. Dengan langkah lesu ia lalui desa demi desa karena jaraknya yang lumayan membutuhkan waktu ekstra. Saat kakinya menginjak lantai Super market itu, tiba-tiba ia bertemu dengan sosok yang taka sing lagi baginya.
            “ hay Randa.’ Sapa sosok itu yang tak lain adalah Rio teman sekelasnya
              iya hay juga.  Ada apa ya ?” Tanya lagi Randa dengan mimic wajah yang sedikit jutek merasa tak suka dengan kehadirannya.
            “ tidak apa-apa. Oh iya kenalin ini kakakku, namanya Raka. Kak kenalin ini Randa.” Ucap Rio memperkenalkan mereka keduanya.
            “ hay, randa.” Ucapnya pada Raka
            “ Raka.” Balasnya seraya melemparkan senyum.
            “ oh, kamu yang juara kelas itu ya?” Tanya Raka
            “ bukan kak, yang pintar itu Randi.” Ucap Rio
            Sementara Randa hanya terdiam, peristiwa seperti ini seperti mimpi buruk yang mematikannya. Selalu merasa beda meska sebenarnya sosoknya sama. Akhirnya ia berlalu meninggalkan mereka berdua.
       Sepulang dari supermarket, Randa memasuki kamarnya,Ia sangat jengkel,kesal dan marah karena ia selalu di beda-bedakan dengan saudara kembarnya(si Randi). Biasanya jika ia merasa kesal ia biasanya habiskan dengan menulis menuruti tarian penanya.sebait puisi ia ciptakan yang bertemakan dengan nuansa hatinya saat ini. Hal itulah yang juga menjadi hobinya saat ini. Tapi selain menulis ia juga sangat berbakat menggambar. Karya-karyanya yang indah itu seakan memiliki roh yang nyata. Tapi, ia tak pernah mempublikasikannya kepada redaksi, hanya tersimpan rapi dalam map biru bersama kumpulan karyanya yang lain yang juga eksotis. Ia tak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang lebih, ia merasa itu hanya sampah dari curahan hatinya yang tak bernilai.
          Setelah pagi menyambut, pintu kamarnya perlahan-lahan terbuka, memunculkan sosok yang tak asing baginya. Lalu pintu kamarnya terbuka dan mama masuk ke kamarnya Randa.Dan mama berkata”Eh,anak ibu yang ganteng,yang baik,yang sholeh sudah pulang”mama melihat Randa sambil tersenyum.”Tapi kenapa mukanya di tekuk?”Tanya mama sambil senyam-senyum.”Randa tidak suka punya saudara kembar.”Kata Randa sambil cemberut.”Tidak senang ?”.Tanya mama heran.”memangnya kenapa sayang?”Tanya mama. Habis orang-orang sering membanding-bandingkan Randa dan Randi.Apalagi banyak orang yang mengira kalau Randa itu Randi,si juara kelas ,Ujar Randa. Jangan dipikirkan anakku”,yang penting mama dan papa tidak membanding-bandingkan kalian berdua.”Kata mama dengan nada lembut.”Tapi ma,kenapa Randi mempunyai banyak kelebihan,sedangkan Randa……..?”kata Randa sambil menangis pilu.”Randa dengarkan mama,tiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan.”kata mama sambil memeluk randa.
       Walaupun sudah di hibur mama,randa tetap saja masih kesal dan marah pada randa.sekarang kalau berangkat atu pulang sekolah ia berjalan di depan atau di belakang randi.”randa kenapa sih tidak mau jalan sama-sama



cinta ababil

“selamat pagi dunia!”  ucapnya saat terbangun dari tidurnya.
Melihat cahaya matahari dari celah-celah atap rumah yang berlubang menghangatkan sekujur tubuhnya. Panggillah ia Inay, cewek yang selalu serba sibuk tanpa juntrungan yang jelas. Sekarang adalah hari pertamanya sekolah di SMAN 3 PROBOLINGGO. Sekarang ia akan menjalani hidup barunya di sekolah yang baru juga, sekolah yang indah, sejuk, dan asri. Cukup nyaman untuk tempat menimbah berbagai ilmu. Ia bergegas untuk siap-siap pergi ke sekolah barunya. Ia sangat menanti saat-saat ini. Inilah momen yang paling ia tunggu-tunggu.
Saat ia tiba di sekolah barunya, ia tak mengenal siapapun dan tak ada yang bisa ia ajak untuk bicara. Mereka semua begitu asing untuk dirinya. Hanya bertemankan dedaunan dan pohon-pohon rindang. Ia duduk sendiri di dekat pintu gerbang utama. Tiba-tiba seorang pria menyapanya.” Hai, dari SMP mana”
“hah ? aku dari SMP 1 WONOMERTO.” Ucapnya setengah gugup.
“oh, sendirian tah ?” tanyanya lagi. Inay hanya bias membalas dengan anggukan.
Ditengah-tengah keramain, mereka hanyut dalam kebisuan. Tak ada topic yang mereka bicarakan lagi. Tiba-tiba lelaki tersebut berpamitan untuk pergi,” hai, aku pergi dulu ya,,, aku pesan jangan sering-sering sendirian, nanti kesurupan loch,,,,”ujarnya  sambil melempar senyum.
“hmmm ia.” jawabnya singkat dan  kini ia kembali lagi sendiri tanpa teman.
Saat bel berbunyi yang sekaligus menandakan semua siswa baru untuk melaksanakan upacara pembukaan MOS. Inay sengaja berbaris paling depan, karena ia memang terbiasa berada di depan saat upacara dimanapun. Saat upacara berlansung, pandangannya kemana-mana, ia seperti mencari-cari seseorang. Setelah beberapa lama ia mencari, akhirnya sosok yang ia cari akhirnya ketemu juga. Sosok yang terlihat tampan dan putih. Tapi sayang, sekarang sosok itu terasa jauh darinya. Ia sangat menyadari bahwa kenyataannya sekarang mereka tidak sekelas. Dan itu artinya, peluang mereka berbicara seperti tadi pagi sangatlah kecil.
Beberapa hari berada di sekolah dan kelas yang baru, akhirnya Inay mulai mendapatkan  beberapa teman. Meski teman yang ia harapkan tidak mungkin ia dapatkan. Sampai detik ini ia masih mengharapkan kedatangan lelaki itu. Lelaki yang belum sempat ia ajak kenalan, lelaki itu juga yang menemaninya saat ia ditengah-tengah keramaian. Tanpa ia sadari bahwa sekarang, dirinya kini telah jatuh cinta pada lelaki tersebut.
Setelah beberapa hari, ia mulai ingin menyibukkan hari-harinya dengan segala aktivitas yang bisa menyita waktunya, berharap bisa melupakan sosok lelaki yang kini mulai memenuhi hatinya itu.
Suatu hari tanpa ia sadari, ia bertemu dengan lelaki itu tadi.
“ hai cewek, kamu yang dulu dari SMP WONOMERTO itu kan ?” sapanya yang mengagetkan Inay
Inay haya bisa tersenyum dan tersipu malu. “ gimana kabarnya? Lama gak kelihatan!” ucapnya lagi.
“i…iya.” Jawab Inay gugup.
Inay lansung pergi dan meninggalkan lelaki itu. Saat di tengah jalan, ia menyadari kebodohannya lagi, ia lupa berkenalan dengan lelaki itu. Kejadian tadi itu seperti mimpi yang datang kedua kalinya. Hingga sekarang ia hanya bisa berharap mimpi itu terulang dan bekelanjutan dengan indah. Rasa itu telah menempel layaknya lem yang susah untuk dilepaskan. Lelaki itu seakan telah menghipnotisnya, ia seakan tak bisa berontak dan melawan.
Sejak ia mengetahui kelas lelaki tersebut, ia terlihat sering sekali berjalan di depan kelas lelaki itu. Dan pada suatu hari yang, ia melihat lelaki itu sedang bersama dengan seorang wanita. Apakah wanita itu kekasihnya ya ? kalaupun ia, mengapa hati ini seperti tak percaya. Ucapnya dalam hati.
Kini hatinya benar-benar sangat remuk. Separuh hatinya telah hancur terbawa oleh kenyataan yang pahit itu. Harapan, cinta, semuanya lenyap seketika hanya dengan satu kenyataan. Cinta yang ia rasakan saat pertama bertemu, pertama menyapa hidupnya, kini telah sirna menyadari semua kenyataan yang harus ia terima. Ia hanya bias mengatakan perpisahan pada cintanya. Cinta ababil ( ABG labil )